Dalam beberapa tahun
terakhir, dunia menghadapi perubahan geopolitik, ekonomi, dan teknologi yang
sangat cepat. Perang, krisis global, disrupsi kecerdasan buatan (AI), hingga
meningkatnya ketegangan antarnegara menunjukkan satu realitas penting: hukum
sedang diuji secara serius.Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan
mendasar: apakah hukum masih relevan ketika pelanggaran hukum terjadi secara
terbuka dan berulang?
Pertanyaan ini
menjadi inti refleksi Profesor Kristen Eichensehr dalam kuliah penutupnya di
Harvard Law School bertajuk “Why Law and Lawyers Matter in a World of
Rampant Law Breaking.” Dari refleksi tersebut, terdapat sejumlah pelajaran
penting yang relevan tidak hanya bagi akademisi hukum, tetapi juga bagi
praktisi hukum, pelaku usaha, regulator, dan masyarakat luas.
Dunia Sedang Berubah
Sangat Cepat
Perubahan hukum saat
ini tidak lagi berlangsung secara gradual. Banyak prinsip yang sebelumnya
dianggap “settled law” kini dipertanyakan kembali. Dalam konteks internasional,
berbagai negara mulai secara terbuka mengabaikan norma hukum internasional,
termasuk prinsip larangan penggunaan kekuatan bersenjata dan perlindungan
terhadap warga sipil dalam konflik. Fenomena ini memperlihatkan bahwa hukum
tidak pernah benar-benar statis. Hukum selalu berada dalam relasi yang dinamis
dengan politik, ekonomi, teknologi, dan kekuatan negara. Bagi dunia usaha dan
masyarakat, kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian hukum (legal
uncertainty) yang semakin kompleks. Regulasi berubah cepat, risiko
geopolitik meningkat, dan penegakan hukum dapat dipengaruhi oleh dinamika
politik maupun kepentingan strategis negara. Di sinilah peran lawyer menjadi
semakin krusial.
Lawyer Bukan Sekadar
Ahli Regulasi
Dalam praktik modern, lawyer tidak lagi
hanya berfungsi sebagai “pembaca undang-undang.” Lawyer dituntut menjadi:
- strategic
advisor;
- risk
analyst;
- crisis
navigator;
- compliance
architect; dan
- guardian
of institutional integrity.
Seorang lawyer harus
mampu membantu klien membaca perubahan, memetakan risiko hukum, serta merancang
langkah mitigasi dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Kemampuan terpenting
seorang lawyer bukan sekadar menghafal aturan hukum, melainkan kemampuan untuk
menemukan jawaban yang tepat ketika situasi berubah dan regulasi belum
sepenuhnya jelas.
Hal ini sangat relevan di Indonesia,
terutama dalam menghadapi:
- transformasi
digital;
- perkembangan
AI dan data governance;
- dinamika
investasi asing;
- perubahan
kebijakan ekonomi;
- sengketa
lintas negara; dan
- penguatan
rezim kepatuhan (compliance regime).
Ketika Politik dan Hukum Bertabrakan
Salah satu isu paling
menarik dalam refleksi tersebut adalah hubungan antara hukum dan politik. Terdapat
pandangan yang berkembang bahwa hukum pada akhirnya hanyalah alat politik.
Ketika kekuasaan berbicara, hukum dianggap tidak lagi memiliki makna
substantif. Namun pandangan tersebut berbahaya. Jika masyarakat mulai percaya
bahwa hukum tidak relevan, maka legitimasi institusi hukum akan perlahan
runtuh. Padahal, sistem hukum berfungsi sebagai guardrails—pembatas agar
konflik politik dan kepentingan kekuasaan tidak berkembang menjadi kekacauan
tanpa kontrol. Dalam konteks negara hukum (rule of law), hukum memang
tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari politik. Akan tetapi, hukum tetap
memiliki otoritas moral dan institusional yang membedakannya dari sekadar
kepentingan politik jangka pendek. Karena itu, lawyer memiliki tanggung jawab
profesional dan etik untuk mempertahankan integritas hukum, bahkan ketika
tekanan politik sangat kuat.
Mengapa Rule of Law
Tetap Penting?
Sejarah menunjukkan
bahwa dunia tanpa aturan hukum bukanlah kondisi yang lebih baik. Sistem hukum
internasional modern lahir setelah kehancuran dua Perang Dunia. Tujuannya
jelas: menciptakan mekanisme agar konflik tidak berkembang tanpa batas. Meskipun
hukum internasional sering dianggap lemah karena mekanisme penegakannya
terbatas, keberadaannya tetap penting sebagai:
- standar
perilaku negara;
- dasar
legitimasi internasional;
- instrumen
diplomasi;
- kerangka
penyelesaian sengketa; dan
- alat
pembatas penggunaan kekuasaan.
Prinsip yang sama
berlaku dalam hukum nasional. Ketika hukum ditegakkan secara konsisten, dunia
usaha memperoleh kepastian, masyarakat memperoleh perlindungan, dan negara
memperoleh legitimasi. Sebaliknya, ketika hukum diabaikan, yang muncul adalah
ketidakpastian, biaya ekonomi tinggi, dan menurunnya kepercayaan publik
terhadap institusi.
Tantangan Lawyer di
Era Modern
Profesi lawyer saat
ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu.
Lawyer modern harus memahami tidak hanya hukum, tetapi juga:
- geopolitik;
- teknologi;
- cybersecurity;
- tata
kelola data;
- ESG
dan sustainability;
- risiko
lintas yurisdiksi; serta
- dinamika
kebijakan global.
Dalam banyak situasi,
lawyer juga harus mampu bekerja di tengah tekanan publik, media sosial, dan
perubahan opini masyarakat yang sangat cepat. Karena itu, kualitas paling
penting bagi lawyer modern bukan hanya kecerdasan hukum, tetapi juga:
- kemampuan
berpikir strategis;
- integritas;
- ketahanan
mental;
- adaptabilitas;
dan
- keberanian
mempertahankan prinsip hukum.
Di tengah dunia yang
semakin tidak stabil, hukum justru menjadi semakin penting. Bukan karena hukum
selalu sempurna, tetapi karena tanpa hukum, ruang publik akan sepenuhnya
didominasi oleh kekuasaan dan kepentingan. Profesi lawyer pada akhirnya bukan
sekadar profesi teknis. Ia merupakan bagian dari mekanisme yang menjaga agar
institusi, bisnis, masyarakat, dan negara tetap berjalan dalam koridor hukum. Dalam
era rampant law breaking, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana
memenangkan perkara, tetapi bagaimana mempertahankan kepercayaan bahwa hukum masih
layak diperjuangkan.

Komentar
Posting Komentar